Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 Mei 2015

Maaf Kan kami Ya Allah




Mengapa kita sering habis habisan mengerahkan tenaga, pikiran, waktu, biaya, hati untuk mencari cinta manusia; makhluk tak berdaya, yang tak bisa menguasai hatinya sendiri dan pasti akan tiada.
Tapi kita tidak habis-habisan memburu cinta Allah. Penguasa semesta alam, Yang nyata-nyata sudah Menciptakan, Menghidupkan, Menjamin, Mengurus diri kita setiap saat walau DIA Menyaksikan kita lupa, lalai dan bahkan mengkhianati-Nya
Mengapa kepada DIA hanya memberi sisa ?
Sholat hanya sisa waktu kesibukan
Zikir hanya sisa ngobrol
Menyebut namanya hanya sisa menyebut-nyebut harta / manusia.
Baca alquran hanya sisa baca koran/ sms/bbm, internet
.
Sedekah hanya sisa belanja/jajan
Memikirkan akhirat sisa memikirkan duniawi
Hati untuk-Nya hanya sisa dari hati yang dipenuhi cinta kepada manusia/ duniawi.
Akankah hanya sisa sisa untuk Rabb yang amat Mengasihimu ? Manaa bukti cintamu ? Hanya sisa-sisa itukah. Bukti cintamu. kepada Penciptamu ?



Jumat, 14 November 2014

Creating Effective Communication Between Parents and Children

 
Importance of Communication.
Activities that most humans do is communication, according to a study, 70-80% of human life is communication, since waking pray, pray aadalah vertical form of communication between the slave with the creator, ranging from a baby to kakee and grandmother certainly do communication.
Relations Communications premises Emotions / feelings.
  Emotional development of a child develops and pullback is determined by the communication, many disturbed children emosoinya because communication adopted by parents who are not effective. There is even a child who suffered due defresi wrong way communication made his parents.
Effective communication is creating happy emotions in a person who later gave birth to a positive energy. With feelings of pleasure and love, the brain absorbs information more and longer and this in a long time able to build a positive personality in the child.
Emotions in oneself there are two kinds of positive emotions and negative emotions, positive emotions are happy, accepted, appreciated, bold affection and others, while negative emotions such upset, ditok
Shellac, angry, anxious, fearful and upset others.

Effective Communication How do I do?
The sender and the recipient have the same perception
The occurrence of a happy relationship
Can resume the conversation
Mutual understanding
Working

How to create Effective Communication Fun
Providing the widest breadth of the opponent speaks
Expressing Emotions
Growing Confidence
Mengharhai lawn talk

barriers to Communication
Stylish as commander of the war
Style patronizing
Style knowledgeably
Style judge
Style satirist
Style Examiner

Senin, 03 November 2014

CERPEN



Seorang anak mengungkapkan rasa penasarannya kepada ayahnya. “Yah, seperti apa sih rupa gunung itu?” Sang ayah tidak menjawab. Ia hanya bilang, “Baiklah, kita berangkat menuju gunung. Akan kamu lihat seperti apa wajah gunung itu.”
Berangkatlah mereka berdua dengan mengendarai mobil. Perjalanan lumayan lama, karena jarak antara tempat tinggal mereka dengan gunung terdekat bisa menghabiskan waktu empat jam dengan mobil. Jarak yang lumayan jauh. Bahkan sangat jauh untuk ukuran seorang anak usia enam tahun.
Ketika perjalanan sudah menempuh hampir separuh jarak, anak itu berteriak, “Hore, gunungnya sudah kelihatan.” Dari balik kaca mobil, sebuah gunung membiru terlihat begitu anggun. Puncaknya menjulang ke langit nan biru dan menembus awan putih. “Oh, indahnya gunung itu,” ucap sang anak. Ia benar-benar kagum.
Mobil pun terus melaju. Jalan yang ditempuh tidak lagi lurus dan datar, tapi sudah berkelok dan naik turun. Wajah gunung pun terlihat hijau karena dedaunan pohon mulai tampak walaupun cuma didominasi warna. Anak itu berujar lagi, “Oh, ternyata gunung itu berwarna hijau. Ada pohon-pohon kecil yang berjajar.”
Sambil menikmati pemandangan sekitar, anak itu pun menyanyikan lagu: “Naik naik ke puncak gunung, tinggi tinggi sekali…” Hingga, perjalanan berhenti pada sebuah dataran yang sangat tinggi. Dari situlah mereka bukan hanya bisa melihat wajah gunung yang asli, tapi juga bisa memegang dan menginjak gunung. Mereka sudah berada di puncak gunung.
“Gunungnya mana, Yah?” tanya anak itu keheranan. “Inilah wajah gunung yang kamu cari, tanah yang sedang kita injak,” jawab sang ayah sambil menunjuk ke tanah yang menanjak dan menurun. Anak itu agak heran. “Ini? Tanah yang gersang ini? Tanah yang cuma berisi batu dan pohon-pohon kecil dengan air sungainya yang keruh?”
Sang ayah mengangguk pelan. Ia menangkap warna kekecewaan yang begitu dalam pada diri anaknya. “Anakku, mari kita pulang. Mari kita nikmati wajah gunung dari kejauhan. Mungkin, dari sanalah kita bisa mengatakan bahwa gunung itu indah…”
Ketika seseorang sudah menjadi ‘gunung-gunung’ di masyarakatnya. Di mana, wajahnya bisa dilihat orang banyak, suaranya didengar banyak orang; akan muncul penasaran orang-orang yang melihat dan mendengar tokoh baru itu. Mereka ingin tahu, seperti apakah wajah sang tokoh ketika dilihat dari dekat: perilakunya, kehidupan rumah tangganya, dan hal-hal detil lain.
Sayangnya, tidak semua ‘gunung’ yang terlihat indah ketika jauh, benar-benar indah di saat dekat. Para peminat yang ingin dekat dengan ‘gunung’ itu pun pasti kecewa. Ternyata, ‘gunung’ yang dari jauh indah itu, menyimpan banyak cacat. Keindahannya semu.
Mari, kita bangun ‘gunung-gunung’ diri yang benar-benar indah: baik dari jauh, apalagi dekat. Jangan biarkan mereka yang semula kagum, menjadi kecewa. Jangan sampai ada orang-orang yang berujar persis seperti sang ayah bilang, “Anakku, mari kita menjauh. Mungkin hanya dari kejauhanlah, kita bisa mengatakan bahwa ‘gunung’ itu indah.

Minggu, 02 November 2014

Child And His father

A child expresses curiosity to his father. "Well, like what is such a mountain is that?" The father did not answer. He just said, "Well, we went to the mountain. What would you see as the face of the mountain. "
They both went for a drive. Quite a long journey, because the distance between their residence to the nearest mountain could spend four hours by car. The distance is pretty far. Even very much for the size of a child six years of age.
When the trip had already covered almost half the distance, the boy cried, "Hurrah, the mountain in sight." From behind the glass car, a blue mountain looks so graceful. Peak towering into the blue sky and through the clouds nan white. "Oh, the beauty of the mountain," said the boy. He was really amazed.
The car kept going. The road is no longer straight and flat, but it's winding and up and down. Mountain face also looks green because the leaves of trees began to appear even though only predominantly. The boy said again, "Oh, it turns green mountain. There are small trees that lined. "
While enjoying the scenery around, the boy sang a song: "Ride up to the top of the mountain, very high high ..." Until, travel stop on a very high plateau. From there, they not only get to see the original face of the mountain, but also can hold and stepped on the mountain. They've been on top of the mountain.
"Where the mountain, Well?" Asked the boy in astonishment. "This is the face of the mountain that you are looking for, we are trampling the ground," replied the father, pointing to land uphill and downhill. The boy was a little surprised. "It? This barren land? Soil that contains only rocks and small trees with turbid river water? "
The father nodded slowly. It captures the colors are so deep disappointment in his son. "Son, let's go home. Let's enjoy the mountain face from a distance. Perhaps, that is where we can say that the mountain was beautiful ... "
When a person has become 'mountains' in society. Where, many people can see her face, her voice heard a lot of people; will appear curious people who see and hear the new figures. They want to know, such as whether the character's face when viewed up close: behavior, home life, and the things other details.
Unfortunately, not all of the 'mountain' that looks beautiful when it is much, really beautiful when close. The enthusiasts who want to be close to the 'mountain' that was definitely disappointed. Apparently, the 'mountain' is beautiful from afar, save a lot of defects. Its beauty is apparent.
Let's wake 'mountains' self really beautiful: good from afar, let alone close. Do not let those who originally amazed, be disappointed. Do not let anyone who says exactly like the father said, "Son, let's away. Maybe just from kejauhanlah, we can say that the 'mountain' is beautiful.
Please help Google Translate improve quality for your language here.
Google Terjemahan untuk Bisnis:

cerpen Kisah seorang anak dengan ayahnya

Seorang anak mengungkapkan rasa penasarannya kepada ayahnya. “Yah, seperti apa sih rupa gunung itu?” Sang ayah tidak menjawab. Ia hanya bilang, “Baiklah, kita berangkat menuju gunung. Akan kamu lihat seperti apa wajah gunung itu.”
Berangkatlah mereka berdua dengan mengendarai mobil. Perjalanan lumayan lama, karena jarak antara tempat tinggal mereka dengan gunung terdekat bisa menghabiskan waktu empat jam dengan mobil. Jarak yang lumayan jauh. Bahkan sangat jauh untuk ukuran seorang anak usia enam tahun.

Ketika perjalanan sudah menempuh hampir separuh jarak, anak itu berteriak, “Hore, gunungnya sudah kelihatan.” Dari balik kaca mobil, sebuah gunung membiru terlihat begitu anggun. Puncaknya menjulang ke langit nan biru dan menembus awan putih. “Oh, indahnya gunung itu,” ucap sang anak. Ia benar-benar kagum.
Mobil pun terus melaju. Jalan yang ditempuh tidak lagi lurus dan datar, tapi sudah berkelok dan naik turun. Wajah gunung pun terlihat hijau karena dedaunan pohon mulai tampak walaupun cuma didominasi warna. Anak itu berujar lagi, “Oh, ternyata gunung itu berwarna hijau. Ada pohon-pohon kecil yang berjajar.”
Sambil menikmati pemandangan sekitar, anak itu pun menyanyikan lagu: “Naik naik ke puncak gunung, tinggi tinggi sekali…” Hingga, perjalanan berhenti pada sebuah dataran yang sangat tinggi. Dari situlah mereka bukan hanya bisa melihat wajah gunung yang asli, tapi juga bisa memegang dan menginjak gunung. Mereka sudah berada di puncak gunung.
“Gunungnya mana, Yah?” tanya anak itu keheranan. “Inilah wajah gunung yang kamu cari, tanah yang sedang kita injak,” jawab sang ayah sambil menunjuk ke tanah yang menanjak dan menurun. Anak itu agak heran. “Ini? Tanah yang gersang ini? Tanah yang cuma berisi batu dan pohon-pohon kecil dengan air sungainya yang keruh?”
Sang ayah mengangguk pelan. Ia menangkap warna kekecewaan yang begitu dalam pada diri anaknya. “Anakku, mari kita pulang. Mari kita nikmati wajah gunung dari kejauhan. Mungkin, dari sanalah kita bisa mengatakan bahwa gunung itu indah…”

Ketika seseorang sudah menjadi ‘gunung-gunung’ di masyarakatnya. Di mana, wajahnya bisa dilihat orang banyak, suaranya didengar banyak orang; akan muncul penasaran orang-orang yang melihat dan mendengar tokoh baru itu. Mereka ingin tahu, seperti apakah wajah sang tokoh ketika dilihat dari dekat: perilakunya, kehidupan rumah tangganya, dan hal-hal detil lain.
Sayangnya, tidak semua ‘gunung’ yang terlihat indah ketika jauh, benar-benar indah di saat dekat. Para peminat yang ingin dekat dengan ‘gunung’ itu pun pasti kecewa. Ternyata, ‘gunung’ yang dari jauh indah itu, menyimpan banyak cacat. Keindahannya semu.
Mari, kita bangun ‘gunung-gunung’ diri yang benar-benar indah: baik dari jauh, apalagi dekat. Jangan biarkan mereka yang semula kagum, menjadi kecewa. Jangan sampai ada orang-orang yang berujar persis seperti sang ayah bilang, “Anakku, mari kita menjauh. Mungkin hanya dari kejauhanlah, kita bisa mengatakan bahwa ‘gunung’ itu indah.

 

 

 

 

7 Keajaiban di Dunia

7 Keajaiban Dunia.....
Seorang guru memberikan tugas kepada siswa-siswanya untuk menuliskan Tujuh Keajaiban Dunia.
Tepat sebelum kelas usai, siang itu, semua siswa diminta untuk mengumpulkan tugas mereka masing-masing.
Seorang gadis kecil yang paling pendiam di kelas itu, mengumpulkan tugasnya paling akhir dengan ragu-ragu.
Tidak ada seorangpun yang memperhatikan hal itu…
Malamnya sang guru meme
riksa tugas siswa-siswanya itu.
Sebagian besar siswa menulis demikian:
Tujuh Keajaiban Dunia:
1. Piramida
2. TajMahal
3. Tembok Besar Cina
4. Menara Pisa
5. Kuil Angkor
6. Menara Eiffel
7. Kuil Parthenon
Lembar demi lembar memuat hal yang hampir sama.
Beberapa perbedaan hanya terdapat pada urutan penulisan daftar tersebut.
Tapi guru itu terus memeriksa sampai lembar yang paling akhir…
Tapi saat memeriksa lembar yang paling akhir itu, sang guru terdiam.
Lembar terakhir itu milik si gadis kecil pendiam…
Isinya seperti ini:
Tujuh Keajaiban Dunia:
1. Bisa melihat
2. Bisa mendengar
3. Bisa menyentuh
4. Bisa disayangi
5. Bisa merasakan
6. Bisa tertawa, dan
7. Bisa mencintai…
Setelah duduk diam beberapa saat, sang guru menutup lembaran tugas siswa-siswanya.
Kemudian menundukkan kepalanya berdoa...
Mengucap syukur untuk gadis kecil pendiam di kelasnya, yang telah mengajarkannya sebuah pelajaran hebat, yaitu:
Tidak perlu mencari sampai ke ujung bumi untuk menemukan keajaiban.Keajaiban itu ada di sekeliling kita untuk kita miliki.